Sudah Tahu Hukum Asuransi Syariah Dalam Islam ?

Asuransi syariah merupakan sebuah asuransi yang berdiri berdasarkan prinsip syariah. Asuransi ini berbasais dengan usaha tolong menolong atau ta’awuni dan saling melindungi atau takafuli diantara para peserta melalui pembentukan kumpulan dana atau tabarru’ yang sesuai dengan prinsip syariah. Hukum asuransi syariah dalam Islam merupakan jenis asuransi yang dikatakan halal. Untuk lebih jelasnya, anda bisa mengetahui asuransi syariah secara lebih dalam.

Mengenal Asuransi Syariah Beserta Hukumnya Dalam Islam

1. Fatwa Mengenai Asuransi Syariah

Pada dasarnya, Islam tidak melarang manusia untuk memiliki asuransi. Akan tetapi, asuransi diperbolehkan jika dana yang terkumpul, dimanfaatkan dan dikelola berdasarkan dengan syariat-syariat Islam. Hal tersebut telah disebutkan dan dijelaskan oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) no : 21/DSN-MUI/X/2001 yang berisi tentang pedoman terkait asuransi syariah. Dalam fatwa tersebut, tentunya mengatur tentang bagaimana asuransi yang sesuai dengan syariat Islam.

2. Jenis Akad Dalam Asuransi Syariah

Menurut hukum asuransi syariah dalam Islam, terdapat dua jenis akad dalam asuransi syariah yang perlu diketahui. Yang pertama adalah akad tijarah yang merupakan bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial. Baik mudharabah atau wakalah bil ujrah, dimana maksud tujuan dari akad mudharabah adalah pengelolaan investasi yang dilakukan oleh sebuah perusahaan asuransi yang dananya berasal dari dana premi peserta asuransi.

Sedangkan untuk akad tabbaru’ adalah bentuk penjanjian yang dilakukan dengan tujuan kebajikan atau tolong menolong yang tidak hanya bertujuan untuk komersial saja. Dana premi yang terkumpul tersebut nantinya akan menjadi dana hibah yang dikelola oleh perusahaan asuransi. Selanjutnya, dana yang terkumpul ini akan digunakan untuk klaim asuransi bagi peserta yang terkena musibah.

Hukum Asuransi Syariah Dalam Islam

3. Keunggulan Dari Adanya Asuransi Syariah

Keunggulan dari asuransi syariah adalah adanya transparasi pengelolaan dana oleh peserta asuransi. Hal ini sesuai dengan perjanjian awal dimana pengelolaan dana yang jelas dan transparan serta akad yang sesuai dengan syariah. Dana tabarru’ akan dikelola secara profesional oleh perusahaan asuransi syariah yakni dengan melalui investasi yang syar’i dengan berlandaskan hukum asuransi syariah dalam Islam.

Dengan pengelolaan dana secara Islami ini maka dapat menghindarkan riba (bunga), Gharar (ketidak jelasan) dan maisir atau judi. Sehingga dengan hadirnya asuransi syariah ini akan menghindarkan dari fungsi asuransi pada umumnya. Sehingga anda bisa menjalankan asuransi berdasarkan prinsip-prinsip dan syariat Islam.

4. Pandangan MUI Terhadap Asuransi Syariah

Menurut majelis ulama indonesia, keberadaan asuransi syariah dinilai sebagai salah satu bentuk perlindungan atas hal-hal buruk yang kemungkinan akan terjadi. Selain itu, terdapat pula unsur tolong-menolong yang terdapat pada asuransi syariah ini. Diantaranya seperti sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset atau tabarru’ yang dimana akan memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad yang sesuai syariah.

Tak hanya itu saja, dalam hukum asuransi syariah dalam Islam menurut pandangan MUI juga terdapat unsur kebaikan yakni tabbaru’. Dalam aturannya jumlah dana premi yang terkumpul disebut hibah bissyarthi atau pemberian dengan persyaratan yang nantinya akan digunakan untuk kebaikan yakni klaim yang dibayarkan berdasarkan akad yang disepakati pada awal perjanjian.

Untuk itu, berdasarkan penjelasan tersebut asuransi syariah dengan menggunakan hukum Islam tentu saja juga memiliki manfaat yang baik. Untuk itu, tidak ada lagi keraguan masyarakat terkait dengan adanya asuransi syariah ini. Oleh karenanya, anda memang diharuskan untuk cerdas dalam memilih produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan dan memiliki dampak positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *